Home / Artikel / TAMPIL BIJAK MEMBELA NEGARA

TAMPIL BIJAK MEMBELA NEGARA

Oleh : Samsul Nizar

Belakangan, banyak reaksi yang muncul atas alasan berbagai persoalan yang ada. Di tengah batas yang hilang sirna karena dunia yang tanpa batas akibat IT, hampir semua aktivitas yang ditampilkan anak negeri dapat dilihat secara gamblang oleh dunia luar. Bagai sebuah film yang ditayangkan dilayar bioskop, respon penonton akan beragam, tergantung cerita yang dipentaskan. Bila pentasan cerita mengisahkan tokoh dari sisi negatif, maka penonton akan menilai sisi negatif tersebut. Demikian pula sebaliknya, bila mengisahkan tokoh dari sisi positif, maka penonton akan menilai positif dan berkeinginan untuk belajar dari pribadi si tokoh.

Bila negeri ini diibaratkan sebuah wilayah kecil dipelosok negeri yang mengalami pemadaman lampu di tengah malam gelap gulita, tatkala penduduk negeri semua bereaksi mempersoalkan kenapa mati lampu dengan kritik tajam diiringi sumpah serapah, apakah lampu dengan serta merta akan hidup ? Jawabannya pasti tak mempengaruhi dan mengurai kegelapan malam. Sikap bijak masyarakat seyogya tampil bersama-sama untuk menghidupkan lilin. Bila hal ini dilakukan, maka kegelapan malam akan terurai dengan cahaya yang ada.

Masyarakat tampil membela desanya dari kegelapan malam akibat pemadaman PLN dengan menghidupkan lilin. Meski cahaya lilin demikian kecil, namun bila semua masyarakat serentak menghidupkan lilin, maka desa akan terang. Sikap masyarakat bijak dan berpikir positif seperti ini merupakan bentuk lain bela desa dari penyusupan maling yang akan merampok desa. Dengan demikian, masyarakat akan diuntungkan, yaitu ; (1) desa terang dan masyarakat bisa melanjutkan aktivitasnya. (2) desa aman karena para maling akan mengurungkan niatnya menjarah desa. (3) masyarakat desa tetangga akan melihat kekompakan masyarakat desa yang tampil menyelesaikan masalah pemadaman PLN dengan sikap bijak, bukan berkerumun dan berbisik atas kelemahan mesin PLN.

Sikap di atas adalah tampilan bijak masyarakat terdidik dalam membela desa. Mereka memberikan waktu bagi petugas PLN memperbaiki kerusakan jaringan, bukan malah beramai-ramai menghancurkan jaringan. Namun, petugas PLN perlu menjawab sikap bijak masyarakat desa tersebut dengan kerja nyata memperbaiki dan berupaya meminimalkan pemadaman lampu pada masa yang akan datang.

Apa yang ditampilkan melalui sikap bijak kedua kelompok di atas merupakan bentuk lain bela negara. Bela negara bukan berarti mengangkat senjata. Bela negara secara luas adalah sikap seluruh elemen bangsa melaksanakan tugas dan fungsinya untuk menampilkan wajah negara bermartabat dan harmonis. Bila sikap saling menyalahkan

dan mengedepankan kebenaran personal, maka pertikaian akan menari-nari di atas panggung yang tak layak ditonton. Bahkan penonton akan mencibir kebobrokan semua elemen yang ada dalam pementasan tersebut. Bila hal ini terjadi, tak ada pihak yang diuntungkan, kecuali pihak penjual jajanan dan penjual tiket yang memperoleh uang atas hasil penjualan tiketnya. Ingatlah pesan leluhur “menang jadi arang, kalah jadi abu”.

Demikian indahnya bila tampilan di atas terimplementasi tanpa menyalahkan dan merendahkan, apalagi merasa paling benar sendiri. Lihatlah perjuangan para pahlawan pejuang kemerdekaan bangsa. Semua bergerak dengan fungsi dan posisinya untuk tercapai tujuan bersama, yaitu Indonesia Merdeka.

Wa Allahua’lam bi al-shawwab
Yogyakarta, 3 November 2018

 

About Humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *